Kamis, 28 November 2013

Sistem Persilangan Ternak



BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Di dalam biologi yang evolusiner, tekanan penyimpangan hasil pemuliaan mengacu pada kasus-kasus ketika keturunan dari persilangan antara individu dari populasi-populasi yang berbeda mempunyai produktivitas lebih rendah dibanding keturunan dari persilangan antara individu dari populasi yang sama. Peristiwa ini dapat terjadi di dalam dua arah. Pertama-tama, pemilihan dalam satu populasi akan menghasilkan suatu ukuran tubuh yang besar, sedangkan di dalam ukuran tubuh populasi kecil yang lain boleh jadi lebih menguntungkan. Aliran gen antara populasi-populasi ini boleh menjurus kepada individu dengan ukuran-ukuran tubuh intermediate/antara, yang tidak akan adaptif dalam populasi.
Di dalam istilah yang genetik, perkawinan tertutup (Biak-dalam/Inbreeding) adalah pembiakan dari dua Ternak yang berhubungan dengan satu sama lain. Dalam kebalikannya, silang luar, kedua orang tua secara total tidak bertalian. Karena semua keturunan yang murni dari binatang menyusur-galurkan sampai kembali kepada suatu nomor terbatas secara relatif sebagai dasar semua pembiakan murni adalah oleh perkawinan tertutup (inbreeding), meski istilah itu tidak secara umum digunakan untuk mengacu pada persilangan-persilangan di mana nenek moyang pada umumnya tidak terjadi dan membendung suatu empat atau lima silsilah generasi. Kasip (1988) menambahkan bahwa faktor pendukukung pembentukan bangsa baru ini adalah dengan mengutip penjelasan dari Warwick (1983) yang menyatakan bahwa Keberhasilan usaha untuk menghasilkan bangsa baru ternak sangat tergantung pada dua faktor, yaitu pemanfaatan heterosis dan jumlah total ternak-ternak dalam populasi. Kemudian beliaupun menambahkan penjelasan dari Weatley (1979) yang menyatakan Adanya heterosis pada keturunan karena adanya pengaruh gen-gen dominan dan besarnya keunggulan dari type crossbred yang digunakan sebagai dasar dari suatu bangsa baru disebaabkan oleh kombinasi gen dengan pengaruh aditif lawan heterosis yang disebabkan oleh pengaruh gen non-aditilasi manapun. 
1.2. Rumusan Masalah
              Adapun rumusan masalah yang di bahas dalam makalah ini yaitu :
      1. Definisi dari Sistem Perkawinan Ternak
      2. Sistem perkawinan Ternak
      3. Kelebihan dan kelemahan dari Inbreeding dan outbreeding








BAB II
PEMBAHASAN
II.1. Definisi Sistem Perkawinan
       Sistem perkawinan hewan adalah cabang ilmu hewan yang membahas evaluasi dari nilai genetik ternak dalam negeri. Bangsa (breeds) adalah kelompok hewan domestik dengan penampilan homogen, perilaku, dan karakteristik lain yang membedakannya dari hewan lain. Pengaturan perkawinan pada ternak sangat penting untuk tujuan mendapatkan keturunan yang unggul.Sistem perkawinan  yang paling banyak digunakan dalam penerapan pemuliaan ternak adalah  perkawinan silang. Alasan menggunakan sistem ini   ialah karena dapat digunakan untuk menghasilkan  efek heterosis. Kalau efek ini muncul maka produksi rata-rata anak akan melebihi produksi rata-rata  tetuanya. Heterosis dapat menyebabkan ternak  silangan memiliki produksi 1 - 17% di atas produksi  rata-rata tetuanya (Lasley, 1972). Heterosis adalah perbedaan di dalam kinerja dari keturunan dari rerata jenis-jenis yang berkenaan dengan orangtua yang sering mengamati menternakkan silang luar, mengawinkan yang bentuk sejenis, atau sejenis. Basis fisiologis dan genetik dari heterosis tidak jelas dipaham.Sistem ini  sudah lama di gunakan di Indonesia sehingga sekarang kita memiliki sapi P0, domba  Sufeg, kambing PE, Jawa Randu, Kelinci Rexlok, dan hasil lain yang belum berhasil diteliti. Apabila perbaikan genetik telah diperoleh, masalah yang dihadapi adalah bagaimana  mempertahankan dan meningkatkan hasil perbaikan tersebut. Mereka yang telah meyakini peranan dan kemanfaatan pemuliaan ternak akan meneruskan usaha  perbaikan genetik karena akhirnya waktu tenaga dan dana yang telah dikeluarkan akan diganti dengan keuntungan hasil penjualan produksi yang makin  meningkat. Dalam penyediaan bibit bisa dilakukan dengan dua macam perkawinan, diantaranya adalah perkawinan alami dan perkawinan buatan dengan bantuan manusia.
       Perkawinan buatan yang sering dilakukan adalah dengan Inseminasi Buatan. Inseminasi Buatan (IB) adalah pemasukan atau penyampaian sperma ke dalam saluran kelamin betina dengan menggunakan alat-alat buatan manusia jadi bukan secara alami. Tujuan Inseminasi buatan yaitu Memperbaiki mutu genetika ternak,tidak mengharuskan pejantan unggul untuk dibawa ketempat yang dibutuhkan sehingga mengurangi biaya ,mengoptimalkan penggunaan bibit pejantan unggul secara lebih luas dalam jangka waktu yang lebih lama,meningkatkan angka kelahiran dengan cepat dan teratur dan mencegah penularan / penyebaran penyakit kelamin
II.2. Sistem Perkawinan Ternak
              Dalam Perkwinan ternak terdiri dari 2 cara yaitu perkawinan ternak secara inbreeding dan secara outbreeding.
1. Inbreeding
       Silang dalam adalah perkawinan antara dua individu yang masih mempunyai hubungan keluarga. Dua individu dikatakan masih mempunyai kaitan kekeluargaan, bila kedua individu tadi mempunyai satu atau lebih moyang bersama (common ancertor), 6 sampai 8 generasi ke atas. Anak dari hasil perkawinansilang dalam disebut individu yang tersilang dalam. Inbreeding adalah sistem perkawinan sedarah. Hal ini termasuk pejantan dengan anak betina, anak ke induk, dan saudara saudara. Konsekuensi genetik utama perkawinan sedarah adalah untuk meningkatkan frekuensi pasangan gen serupa. Sistem inbreeding disarankan hanya untuk menstabilkan sifat – sifat unggul dalam suatu bangsa.
       Secara umum, hasil perkawinan inbreeding akan menurunkan produktifitas kinerja: kekuatan, ketahanan penyakit, efisiensi reproduksi, dan bertahan hidup. Hal ini juga akan meningkatkan frekuensi kelainan. Misalnya, penyebaran penyakit laba-laba di domba-domba hitam yang diyakini sebagai akibat dari perkawinan sedarah.
Keuntungan silang dalam :
1. Membuat individu mirip
    Inbreeding dapat menyebabkan ternak-ternak mirip satu sama lain, karena   
    inbreeding dapat menurunkan tingkat heterozygotsitas didalam populasi.
2. Melestarikan sifat-sifat yang diinginkan
             Apabila kita menyukai suatu sifat pada sekelompok ternak, sifat-sifat  
             tersebut dapat dipertahankan dengan inbreeding.
         3. Seleksi pada gen-gen yang tidak diinginkan
              Inbreeding membuat individu-individu homozygot. Apabila terdapat letal     
             gena dalam keadaan homozygot, maka akan tampak. Dengan demikian  
             kita bisa melakukan seleksi terhadap ternak-ternak pembawa sifat tidak   
             baik.
        Kerugian inbreeding :
 Secara umum, hasil perkawinan inbreeding akan menurunkan produktifitas kinerja: kekuatan, ketahanan penyakit, efisiensi reproduksi, dan bertahan hidup. Hal ini juga akan meningkatkan frekuensi kelainan. Inbreeding juga mempunyai dampak yang tidak diinginkan terhadap sifat-sifat seperti : Pertumbuhan, reproduksi, produksi susu pada sapi perah. Pada saat tertentu, para peternak perlu mempertahankan suatu tetua yang unggul. Cara yang biasa digunakan adalah dengan biak sisi ( line breeding ).
         Contoh : Apabila kita ingin mempunyai seekor pejantan unggul, kita ingin
   anaknya mirip pejantan tersebut, maka dilakukan biak sisi sebagai berikut :
         Pejantan A dikawinkan dengan seekor betina, kemudiaan anaknya yang
         betina dikawinkan lagi dengan pejantan A. Cucunya (F2) dikawinkan lagi    
         dengan pejantan A, dan seterusnya. Pada generasi ke 3 (F3) kita
         memperoleh anaknya 87,5% mirip pejantan A.

2.Outbreeding
       Silang luar adalah sisitem yang paling banyak digunakan dalam kelompok ternak bibit dari ternak besar di banyak negara di dunia. Juga digunakan pada hampir semua kelompok ternak niaga bila telah diputuskan untuk menggunakan satu bangsa tunggal dari pada suatu program perkawinan silang.
       Outbreeding adalah system perkawinan hewan dari jenis yang sama tetapi yang tidak memiliki hubungan yang lebih dekat dari sedikitnya 4-6 generasi.
       Silang luar (biak-luar) yang dikombinasikan dengan pemilihan adalah suatu teknik sangat bermanfaat dalam perbaikan keturunan yang mencakup kepada ciri-ciri yang turun temurun yang sangat bermanfaat (Warwick, 1984). Dari penjelasan di atas, dapat dilihat kesimpulannya di kemukakan oleh Pane (1980) yang mengatakan bahwa Istilah biak-luar sebenarnya kebalikan dari biak-dalam. Membiak-luar adalah perkawinan ternak yang hubungan keluarganya kurang dari hubungan kekeluargaan rata-rata ternak dari mana mereka berasal, Atau untuk mudahnya dari ternak yang tidak mempunyai leluhur bersama selama paling sedikit empat generasi. perkawinan mempunyai keuntungan yang berikut.
(1)   metoda ini adalah sangat efektif karena karakter-karakter yang sebagian besar di bawah   
kendali dari gen-gen dengan pengaruh penambahan seperti; produksi susu, laju pertumbuhan di dalam ternak, seperti pada daging sapi, dll.
(2) sistim yang efektif untuk perbaikan genetika jika dikombinasikan dengan seleksi.
(3) merupakan cara terbaik untuk kebanyakan perkawinan.
       Istilah biak-luar sebenarnya kebalikan dari biak-dalam. Membiak-luar adalah perkawinan ternak yang hubungan keluarganya kurang dari hubungan kekeluargaan rata-rata ternak dari mana mereka berasal, Atau untuk mudahnya dari ternak yang tidak mempunyai leluhur bersama selama paling sedikit empat generasi. Sehingga dalam Penelitian yang dilakukan oleh Lestari, dkk (1997) memberikan contoh bahwa pada sapi-sapi yang Secara genetic seperti sapi Simmental, Limosin dan Brahman mempunyai mutu lebih baik dibandingkan sapi Bali akibatnya keturunan pejantan sapi Simental, Brahman dan Limosin juga mempunyai mutu genetik yang lebih baik diabandingkan keturunan pejantan sapi Bali.
       Membiak-luar adalah suatu metode standar untuk memperbesar variasi populasi, biak secara fenotip atau genotip. Keadaan heterozigot dari populasi akan meningkat dan sebagai akibatnya kesegaran/ketahanan dan daya adaptasi ternak terhadap lingkungan juga akan meningkat. Mastur dan M. Dohi (1996) memberikan contoh Untuk meningkatkan populasi dan produktivitas kambing pada usaha tani lahan kering guna meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan Petani maka perlu diambil langkah-langkah upaya pengembagan salah satunya penyediaan bibit unggul. Menurut mereka, bila dipandang perlu dapat pula mendatangkan bibit kambing yang berasal dari daerah-daerah kering seperti Afrika yang cukup banyak terdapat, bangsa-bangsa kambing dengan pertumbuhan yang baik seperti kambing Mudian. Pejantan kambing ini dapat mencapai bobot badan 50 – 60 Kg..
       Out breeding adalah perkawinan antara ternak yang tidak mempunyai hubungan kekerabatan. Perkawinan ini bisa satu bangsa ternak, atau beda bangsa ternak, tergantung dari tujuan perkawinannya. Secara garis besar out breeding dapat dibedakan menjadi :
1. Biak silang (cross breeding)
2. Biak silang luar (out breeding)
3. Biak tingkat (grading up)
      Biak silang ( Cross-breeding )
       Cross breeding adalah persilangan antar ternak yang tidak sebangsa. Misal antara sapi Brahman dengan sapi Angus.
       Jenis persilangan ini memegang peranan penting dalam pemuliaan ternak,dengan kegunaan-kegunaan :
1. Saling substitusi sifat yang diinginkan.
2. Memanfaatkan keunggulan ternak dalam keadaan hetrozygot.
       Biak silang hingga saat ini tetap memegang peranan penting dalam perbaikan mutu ternak. Banyak ternak yang disebut sekarang Murni (Pure Bred) sebenarnya adalah hasil biak silang beberapa waktu yang lalu dan masalah penentuan istilah antara hasil biak silang dan peranakan atau blasteran tetap ada. Sehingga Warwick (1990) mengemukakan bahwa beberapa bangsa diketahui menjadi Inbreed atau mengalami perkawinan galur secara intensif selama tahap-tahap pembentukannya.
Pola dan efek crossbreeding
       Secara genetis, crossbreed dan inbreed berlawanan. Dalam perkawinan sistem crossbreed, gen tetap bersifat hehetrozigot. Sementara itu, pada sistem inbreed, komposisi gen menjadi semakin homozigot sesuai dengan tingkat inbreednya, dan efek negatif yang berhubungan dengan stamina, cacat bawaan, dan tingkat produksi mungkin muncul dalam sistem ini. Peternakan modern saat ini sudah banyak yang berhasil menggunakan crossbreeding untuk mendapatkan ternak unggul sesuai dengan yang diharapkan.     
       Keberhasilan untuk mendapatkan bibit unggul hasil crossbreeding tergantung pada kemampuan si peternak dalam menyeleksi indukan, memilih pasangan indukan, menilai hasil ternakan, dan menyimpulkan pola yang tepat. Mendapatkan pola yang tepat dalam crossbreeding haruslah berdasarkan pada uji coba, pengalaman, dan pengamatan yang berdasarkan pada jenis dan sifat ternak.
Contoh bangsa sapi baru yang terbentuk dari crossbreding :
Sapi Santa Gertrudis
Hasil perkawinan antara sapi Brahman dengan sapi Shorthorn.
Sapi Brangus
Hasil perkawinan antara sapi Brahman dengan sapi Aberdin Angus. Komposisi darahnya adalah 3/8 Brahman, 5/8 Angus.
Sapi Beef Master
Hasil persilangan antara sapi Brahman, Shorthorn dan sapi Hereford, dengan komposisi darah : 25% Hereford, 25% Shorthorn, 50% Brahman.
Sapi Charbray
Hasil kawin silang sapi Brahman dengan sapi Charolais. Komposisi darahnya adalah 3/16 Brahman, dan 13/16 Charolais.
Crisscrossing
       Mukherjee (1980) menyatakan Criss-Crossing adalah persilangan ternak yang terpisah dari Crosbreeding. Di mana keduanya sebagai silang alternatif, cara ini dikenal sebagai criss-crossing. Metoda itu diusulkan karena memanfaatkan heterosis di dalam kedua induk dan keturunan. Pane, (1980) menambahkan, Biak silang hingga saat in tetap memegang peranan penting dalam perbaikan mutu ternak. Banyak ternak yang disebut sekarang Murni (Pure Bred) sebenarnya adalah hasil biak silang beberapa waktu yang lalu dan masalah penentuan istilah antara hasil biak silang dan peranakan atau blasteran tetap ada.3-breed Rotational Cross : crossbreeding berkelanjutan antara tiga bangsa ternak.


Out Crossing
       Out crossing adalah persilangan antara ternak dalam yang satu bangsa tetapi tidak mempunyai hubungan kekerabatan. Tujuan utama out crossing adalah untuk menjaga kemurnian bangsa ternak tertentu tanpa silang dalam.
Grading Up
      Grading Up adalah perkawinan pejantan murni dari satu bangsa dengan betina yang belum didiskripsikan atau belum diperbaiki dan dengan keturunannya betina dari generasi ke genrasi.
       Grading up adalah persilangan balik yang dilakukan terus menerus dan diarahkan terhadap saru bangsa ternak tertentu. Contoh Grading up di Indonesia yaitu proses Ongolisasi (Sejak pemerintah Hindia Belanda). Sapi-sapi betina lokal Indonesia dikawinkan dengan pejantan Ongol terus menerus, sehingga terbentuk sapi yang disebut peranakan ongol (PO). Tujuan Grading Up adalah untuk memperbaiki ternak-ternak lokal. Kelemahan Grading up adalah dapat menyebabkan ternak-ternak lokal punah. Grading up adalah perkawinan yang digunakan untuk meningkatkan mutu genetik ternak yang diskrib (tidak jelas asal usulnya). Ternak dan kemudian keturunannya tersebut dikawinkan secara terus menerus dengan ternak yang memeiliki galur murni dan sifat yang jelas diharapkan. Semakin sering dilakukan perkawinan maka keturunannya akan semakin mendekati sifat yang diinginkan.
       Persilangan galur (Linecrosing). Persilangan galur adalah perkawinan ternak-ternak dari dua galur inbreed dari bangsa yang sama. Persilangan galur inbreed dari dua jenis yang berbeda kadang-kadang disebut perkawinan silang galur (Line Cross Breeding) (Warwick et al., 1990).
Inseminasi Buatan
       Inseminasi Buatan (IB) atau kawin suntik adalah suatu cara atau teknik untuk memasukkan mani (sperma atau semen) yang telah dicairkan dan telah diproses terlebih dahulu yang berasal dari ternak jantan ke dalam saluran alat kelamin betina dengan menggunakan metode dan alat khusus yang disebut 'insemination gun'.
-        Tujuan Inseminasi Buatan

  1. Memperbaiki mutu genetika ternak;
  2. Tidak mengharuskan pejantan unggul untuk dibawa ketempat yang dibutuhkan sehingga mengurangi biaya;
  3. Mengoptimalkan penggunaan bibit pejantan unggul secara lebih luas dalam jangka waktu yang lebih lama;
  4. Meningkatkan angka kelahiran dengan cepat dan teratur;
  5. Mencegah penularan / penyebaran penyakit kelamin.
-        Keuntungan Inseminasi Buatan (IB)
  1. Menghemat biaya pemeliharaan ternak jantan;
  2. Dapat mengatur jarak kelahiran ternak dengan baik;
  3. Mencegah terjadinya kawin sedarah pada sapi betina (inbreeding);
  4. Dengan peralatan dan teknologi yang baik sperma dapat simpan dalam jangka waktu yang lama;
  5. Semen beku masih dapat dipakai untuk beberapa tahun kemudian walaupun pejantan telah mati;
  6. Menghindari kecelakaan yang sering terjadi pada saat perkawinan karena fisik pejantan terlalu besar;
  7. Menghindari ternak dari penularan penyakit terutama penyakit yang ditularkan dengan hubungan kelamin.
       Siklus birahi pada sapi betina yang normal biasanya berulang setiap 21 hari, dengan selang antara 17-24 hari.Siklus birahi akan berhenti secara sementara pada keadaan-keadaan:
  1. Sebelum dewasa kelamin;
  2. Selama kebuntingan;
  3. Masa post-partum.
       Siklus birahi dibagi dalam 4 tahap, dan berbeda-beda pada setiap spesies hewan. Tahapan dan lamanya pada sapi dapat ditemui di bawah ini :
  • Estrus
Pada tahap ini sapi betina siap untuk dikawinkan (baik secara alam maupun IB). Ovulasi terjadi 15 jam setelah estrus selesai. Lama periode ini pada sapi adalah 12 - 24 jam.
·         Proestrus
Waktu sebelum estrus. Tahap ini dapat terlihat, karena ditandai dengan sapi terlihat gelisah dan kadang-kadang sapi betina tersebut menaiki sapi betina yang lain. Lamanya 3 hari.
  • Metaestrus
Waktu setelah estrus berakhir, folikelnya masak, kemudian terjadi ovulasi diikuti dengan pertumbuhan / pembentukan corpus luteum (badan kuning). Lama periode ini 3 - 5 hari.



  • Diestrus
Waktu setelah metaestrus, corpus luteum meningkat dan memproduksi hormon progesteron.Periode ini paling lama berlangsungnya karena berhubungan dengan perkembangan dan pematangan badan kuning, yaitu 13 hari.
Pada saat keadaan dewasa kelamin tercapai, aktivitas dalam indung telur (ovarium) dimulai.Waktu estrus, ovum dibebaskan oleh ovarium. Setelah ovulasi terjadi, bekas tempat ovarium tersebut itu dipenuhi dengan sel khusus dan membentuk apa yang disebut corpus luteum (badan kuning) Corpus luteum ini dibentuk selama 7 hari, dan bertahan selama 17 hari dan setelah waktu itu mengecil lagi karena ada satu hormon (prostaglandin) yang merusak corpus luteum dan mencegah pertumbuhannya untuk jangka waktu yang relatif lama (sepanjang kebuntingan).
Selain membentuk sel telur , indung telur / ovarium juga memproduksi hormon, yaitu:
  1. Sebelum ovulasi: hormon estrogen;
  2. Setelah ovulasi corpus luteum di ovarium memproduksi: hormon progesteron
Hormon-hormon ini mengontrol (beri jarak) kejadian siklus birahi di dalam ovarium.
Tanda - tanda birahi pada sapi betina adalah :
  1. ternak gelisah
  2. sering berteriak
  3. suka menaiki dan dinaiki sesamanya
  4. vulva : bengkak, berwarna merah, bila diraba terasa hangat (3 A dalam bahasa Jawa: abang, abuh, anget, atau 3 B dalam bahasa Sunda: Beureum, Bareuh, Baseuh)
  5. dari vulva keluar lendir yang bening dan tidak berwarna
  6. nafsu makan berkurang
Gejala - gejala birahi ini memang harus diperhatikan minimal 2 kali sehari oleh pemilik ternak.Jika tanda-tanda birahi sudah muncul maka pemilik ternak tersebut tidak boleh menunda laporan kepada petugas inseminator agar sapinya masih dapat memperoleh pelayanan Inseminasi Buatan (IB) tepat pada waktunya.Sapi dara umumnya lebih menunjukkan gejala yang jelas dibandingkan dengan sapi yang telah beranak.
-        Waktu Melakukan Inseminasi Buatan (IB)
Pada waktu di Inseminasi Buatan (IB) ternak harus dalam keadaan birahi, karena pada saat itu liang leher rahim (servix) pada posisi yang terbuka.
Kemungkinan terjadinya konsepsi (kebuntingan) bila diinseminasi pada periode-periode tertentu dari birahi telah dihitung oleh para ahli, perkiraannya adalah :
  • permulaan birahi : 44%
  • pertengahan birahi : 82%
  • akhir birahi : 75%
  • 6 jam sesudah birahi : 62,5%
  • 12 jam sesudah birahi : 32,5%
  • 18 jam sesudah birahi : 28%
  • 24 jam sesudah birahi : 12% 
-        Faktor - Faktor Penyebab Rendahnya Kebuntingan
Faktor - faktor yang menyebabkan rendahnya prosentase kebuntingan adalah :
  1. Fertilitas dan kualitas mani beku yang jelek / rendah;
  2. Inseminator kurang / tidak terampil;
  3. Petani / peternak tidak / kurang terampil mendeteksi birahi;
  4. Pelaporan yang terlambat dan / atau pelayanan Inseminator yang lamban;
  5. Kemungkinan adanya gangguan reproduksi / kesehatan sapi betina.
Jelaslah disini bahwa faktor yang paling penting adalah mendeteksi birahi, karena tanda-tanda birahi sering terjadi pada malam hari. Oleh karena itu petani diharapkan dapat memonitor kejadian birahi dengan baik dengan cara:
  • Mencatat siklus birahi semua sapi betinanya (dara dan dewasa);
  • petugas IB harus mensosialisasikan cara-cara mendeteksi tanda-tanda birahi.
Salah satu cara yang sederhana dan murah untuk membantu petani untuk mendeteksi , adalah dengan memberi cat diatas ekor, bila sapi betina minta kawin (birahi) cat akan kotor / pudar / menghilang karena gesekan akibat dinaiki oleh betina yang lain.
Penanganan bidang reproduksi adalah suatu hal yang rumit.Ia membutuhkan suatu kerja sama dan koordinasi yang baik antara petugas yang terdiri atas dokter hewan, sarjana peternakan dan tenaga menengah seperti inseminator, petugas pemeriksa kebuntingan, asisten teknis reproduksi. Koordinasi juga bukan hanya pada bidang keahlian tetapi juga pada jenjang birokrasi karena pelaksanaan Inseminasi Buatan (IB) masih lewat proyek yang dibiayai oleh pemerintah sehingga birokrasi masih memegang peranan yang besar disini.Koordinasi dari berbagai tingkatan birokrasi ini yang biasanya selalu disoroti dengan negatif oleh para petugas lapang dan petani.Keterbuakaan adalah kunci keberhasilan keseluruhan program ini.
-        Sinkronisasi Birahi
Pada beberapa proyek pemerintah, seringkali inseminasi buatan dilaksanakan secara crash-program dimana pada suatu saat yang sama harus dilaksanakan Inseminasi padahal tidak semua betina birahi pada waktu yang bersamaan. Oleh karena itu harus dilaksanakan apa yang disebut dengan sinkronisasi birahi.
Pada dasarnya, sinkronisasi birahi adalah upaya untuk menginduksi terjadinya birahi dengan menggunakan hormon Progesteron.Preparatnya biasanya adalah hormon sintetik dari jenis Prostaglandin PgF2a. Nama dagang yang paling sering ditemui di Indonesia adalah Enzaprost F. Sinkronisasi birahi ini mahal biayanya karena harga hormon yang tinggi dan biaya transportasi serta biaya lain untuk petugas lapang.
Cara apikasi hormon untuk penyerentakkan birahi adalah sebagai berikut :
  • Laksanakan penyuntikan hormon pertama, pastikan bahwa :
Sapi betina resipien harus dalam keadaan sehat dan tidak kurus (kaheksia);
Sapi tidak dalam keadaan bunting, bila sapi sedang bunting dan penyerentakkan birahi dilakukan maka keguguran akan terjadi.
  • Laksanakan penyuntikan hormon kedua dengan selang 11 hari setelah penyuntikan pertama;
  • Birahi akan terjadi 2 sampai 4 hari setelah penyuntikan kedua.
-        Prosedur Inseminasi Buatan adalah sebagai berikut:
  1. Sebelum melaksanakan prosedur Inseminasi Buatan (IB)  maka semen harus dicairkan (thawing) terlebih dahulu dengan mengeluarkan semen beku dari nitrogen cair dan memasukkannya dalam air hangat atau meletakkannya dibawah air yang mengalir. Suhu untuk thawing yang baik adalah 37oC. Jadi semen/straw tersebut dimasukkan dalam air dengan suhu badan 37 oC, selama 7-18 detik.
  2. Setelah dithawing, straw dikeluarkan dari air kemudian dikeringkan dengan tissue.
  3. Kemudian straw dimasukkan dalam gun, dan ujung yang mencuat dipotong dengan menggunakan gunting bersih
  4. Setelah itu Plastic sheath dimasukkan pada gun yang sudah berisi semen beku/straw
  5. Sapi dipersiapkan (dimasukkan) dalam kandang jepit, ekor diikat
  6. Petugas Inseminasi Buatan (IB)  memakai sarung tangan (glove) pada tangan yang akan dimasukkan ke dalam rektum
  7. Tangan petugas Inseminasi Buatan (IB) dimasukkan ke rektum, hingga dapat menjangkau dan memegang leher rahim (servix), apabila dalam rektum banyak kotoran harus dikeluarkan lebih dahulu
  8. Semen disuntikkan/disemprotkan pada badan uterus yaitu pada daerah yang disebut dengan 'posisi ke empat'. Setelah semua prosedur tersebut dilaksanakan maka keluarkanlah gun dari uterus dan servix dengan perlahan-lahan.
Transfer Embrio (TE)
       Transfer embrio (TE) merupakan generasi kedua bioteknologi reproduksi setelah inseminasi buatan (IB). Teknologi ini memiliki kelebihan dari ilmu reproduksi lainnya seperti IB. Transfer embrio merupakan suatu proses, mulai dari pemilihan sapi-sapi donor, sinkronisasi birahi, superovulasi, inseminasi, koleksi embrio, penanganan dan evakuasi embrio, transfer embrio ke resipien sampai pada pemeriksaan kebuntingan dan kelahiran. Transfer embrio memiliki manfaat ganda karena selain dapat diperoleh keturunan sifat dari kedua tetuanya juga dapat memperpendek interval generasi sehingga perbaikan mutu genetik ternak lebih cepat diperoleh. Selain itu, dengan TE seekor betina unggul yang disuperovulasi kemudian diinseminasi dengan sperma pejantan unggul dapat menghasilkan sekitar 40 ekor anak sapi unggul dan seragam setiap tahun, bila dibandingkan dengan perkawinan alam atau IB hanya mampu melahirkan 1 ekor anak sapi pertahun. Bahkan bisa dibuat kembar identik dalam jumlah yang banyak dengan menggunakan teknik "Cloning". Teknologi TE juga dapat membuat jenis kelamin (jantan atau betina) anak sapi yang diinginkan. Selama kurun waktu enam tahun, Puslit Bioteknologi - LIPI bekerjasama dengan Peternakan Tri ‘S[ES][SQ] Tapos telah berhasil mengembangkan penelitian dan telah memproduksi ± 500 embrio sapi potong dan sapi perah dan sebagian sudah ditransfer ke sapi-sapi resipien dan lahir. Sejak tahun 1995 mulai disebar embrio beku sapi perah ke peternak di Bogor, Lembang dan Garut dalam program bantuan Bapak Presiden (Banpres).
       Tahun 1997 dimulai program membuat sapi unggul jenis "Brangus" khususnya daerah Indonesia Timur (Lombok, NTB) dengan teknologi embrio transfer.
Bidang Pemakaian
  • Industri peternakan sapi perah
  • Industri penggemukan sapi potong
Kegunaan
  • Penyediaan bibit ternak unggul yang seragam.
  • Peningkatan produksi susu, kualitas daging dan pertumbuhan yang cepat
Tingkat Hasil R & D
  • Teknologi transfer embrio untuk menghasilkan bibit unggul telah dikuasai sejak tahun 1990 dengan kerjasama Peternakan Tri ‘S[ES][SQ] Tapos.
  • Produksi susu dan kualitas daging dengan teknik transfer embrio telah dikaji selama 5 tahun.
  • Produksi embrio dan sperma beku sudah disebar dibeberapa daerah di Indonesia
Bentuk yang dialihkan
  • Bibit sapi unggul
  • Embrio sapi perah dan sapi potong
  • Sperma sapi perah dan potong (sperma jantan atau betina)
  • Ilmu pengetahuan (training dan konsultasi) industri peternakan
Sasaran Mitra Usaha
  • Industri pabrik pengolahan susu
  • Industri pengemukan sapi potong (Feed loter)
  • KUD


















BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
    Sistem perkawinan merupakan cabang ilmu yang membahas evaluasidari nilai genetik ternak dalam negeri. Inbreading adalah perkawinan antar individu yang masih memiliki hubungan keluarga. Outbreeding merupakan metode penyilangan campuran yang bertujuan untuk mengahasilkan ternak yang berkualitas dalam hal ini peningkatan produktivitas ternak itu sendiri. Terdapat macam-macam outbreeding, yaitu crossbreeding atau biak silang, out cross, dan grading up.
3.2 Saran
    biak-luar sangat baik dilakukan untuk mendapat ternak yang berkualitas, peningkatan penyilangan ini di sarankan dilakukan untuk meningkatkan kualitas gen pada ternak-ternak.









DAFTAR PUSTAKA


Blogger.http://situkangmulung.blogspot.com/2010/01/inbreeding-dan-
       outbreeding-dalam.html.

Heryadi.http://heryahyadi.blogspot.com/2013/04/inbreding-pada-sapi.html
Rizky.http://rizkyrahman.wordpress.com/2013/04/01/sistem-perkawinan-out-
  breeding-pada-ternak/














MAKALAH ILMU HIJAUAN  & TATALAKSANA
LADANG (PET2315)
(SISTEM PERKAWINAN)
 

                              





OLEH :
KELOMPOK 1
ARDIANSYAH
RANO KARNO
MISNAWATI
SUTARMIN
ASDAR
                          
JURUSAN ILMU PETERNAKAN
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN
MAKASSAR
2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar